Saat Anak Perempuan Berkata: “I Can Be and Still Be Me!” (Artikel ditulis oleh Stella Arawinda – Pemenang Harapan II Lomba Penulisan Artikel Gerakan Sahabat Anak 2021)

Siapa bilang anak perempuan hanya bisa berkhayal menjadi presiden tanpa bisa mewujudkannya? Siapa bilang anak perempuan tidak mampu menjadi bos suatu perusahaan? Siapa bilang anak perempuan tidak bisa menjadi seorang ahli hukum, astronot, teknisi, CEO atau mungkin founder dari brand ternama?

 

Jelas, saat ini sudah bukan zaman penjajahan lagi. Kini edukasi dan hak-hak anak perempuan pun sudah tidak seharusnya dinomorduakan seperti dulu. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak stereotypes yang justru tidak melindungi hak anak—terutama anak perempuan— dan malah ‘menjatuhkan’ impiannya. Pemberian cap oleh masyarakat ini antara lain menyatakan bahwa anak perempuan itu dinilai lebih lemah daripada anak laki-laki. Ada juga yang menyatakan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena masa depannya hanya untuk melayani suami di rumah. Mungkin tidak sedikit pula yang mengatakan hal-hal seperti, “itu kan pekerjaan laki-laki. Kamu nggak bisa.”

 

Padahal mindset anak perlu dibentuk sepositif mungkin sebagai salah satu upaya membekalinya dalam meraih cita-cita. Anak perlu diberi rasa percaya diri. Bukannya malah dipojokkan dengan stigma negatif. Terlebih di dalam keluarga. Apabila di tengah keluarganya saja sudah ditanamkan mindset yang bisa mematahkan semangat, jangan salahkan kalau pada akhirnya anak perempuan kita akan tumbuh menjadi katak dalam kotak. Mungkin juga anak perempuan kita akan minder dengan teman atau bahkan saudaranya sendiri yang bergender laki-laki.

 

Kampanye Sahabat Anak tahun 2021 adalah untuk semakin menggaungkan hak-hak anak dalam mendapat perlindungan dengan tema “Aku Disayang, Aku Dilindungi”. Maka dari itu, artikel ini akan mengangkat fokus bahasan mengenai pentingnya perlindungan hak anak perempuan dalam berkarya agar mendapat kesempatan yang sama di tengah masyarakat.

 

 

 

 

“Kamu N̶g̶g̶a̶k̶ Bisa!”

 

Mengutip dari theAsianparent.com, Vera Itabiliana seorang psikolog anak dan remaja menyatakan bahwa potensi anak sudah bisa dilihat sedari mereka memasuki usia pra sekolah. Namun tentu orang tua perlu

 

 

ambil peran penting agar anak dapat semakin mengembangkan potensinya. Adapun hal-hal yang perlu disadari oleh orang tua menurut Vera adalah:

  1. Memberikan wawasan yang luas;
  2. Menyediakan banyak pilihan;
  3. Membiarkan anak mencoba dan menentukan pilihannya sendiri.

 

Poin ketiga ini sering terhambat oleh stereotypes yang justru membatasi potensi anak perempuan, seperti pengkotak-kotakan bahwa anak laki-laki harus bermain bola sementara perempuan harus bermain masak-masakan. Lantas apabila anak perempuan bisa dan lebih suka bermain bola, apakah harus dibatasi? Jawabannya kembali ke poin nomor 3 diatas.

 

Anak perempuan boleh dan bisa menjadi apapun yang diinginkannya. Semua anak memiliki kesempatan yang sama. Apapun pilihannya, mereka tetap berhak disayang dan dimotivasi, bukannya dicaci.

 

Jangan membatasi pilihan anak. Meskipun ia perempuan, namun apabila tertarik untuk merakit Robot Gundam, biarkan saja. Siapa tahu saat dewasa ia bisa menjadi creator robot dengan brand yang jauh lebih terkenal. Apabila ia tertarik untuk bermain game tembak-tembakan, janganlah dicela. Siapa tahu saat dewasa ia menjadi game maker atau professional gamer yang sama saja bisa mendatangkan hal baik untuk masa depanya.

 

Secara fisik, kekuatan laki-laki dan perempuan memang beda. Pekerjaan pun ada beberapa yang dinilai masyarakat masih memberatkan perempuan. Tapi kalau memang si anak perempuan mau dan merasa mampu, apakah harus dilarang? Apakah harus dimarahi dan diberi kalimat-kalimat yang mematahkan semangatnya? Tentu tidak.

 

Cobalah untuk mengganti kalimat, “memangnya kamu bisa?” menjadi, “wow, keren banget kamu. Ayo semangat! Kalau kamu mau, kamu pasti bisa!” saat mendengar anak perempuan anda berkata, “ma, pa, aku pingin jadi ahli teknik mesin!

 

Anak perempuan sudah cukup tertekan di cap sebagai ‘nomor dua’ oleh masyarakat. Dalam keluarga, selayaknya kita melindungi mereka dari kalimat-kalimat yang cenderung meragukan dan menyakitkan hati. Semakin lama, dalam diri anak jadi akan ikut tersugesti kata-kata “AKU BISA!” dan hal itu akan dijadikan ‘back up’ dalam perjalanan meraih cita-citanya.

 

She Can Be Anything!

 

Menurut KBBI, sugesti memiliki kata lain dorongan. Artinya dengan memberikan suatu sugesti, si penerima akan cenderung ‘terdorong’ untuk melakukan atau tidak melakukan hal-hal tertentu.

 

Sudah banyak buku atau artikel yang mengatakan pentingnya sugesti positif demi kemajuan dan percaya diri anak. Mengenai sugesti dan kekuatan pikiran inilah, seorang akademisi jebolan Institut Teknlogi Sepuluh November (ITS) yang sekaligus seorang konsultan pikiran, Firman Pratama, merancang suatu metode khusus yang disebut Alpha Mind Control (AMC). Metode ini bertujuan untuk mengenali, mengontrol dan memaksimalkan fungsi dari pikiran. Salah satu pengajarannya adalah mengenai betapa penting dan berdampaknya pemberian sugesti.

 

Dalam salah satu karyanya, Firman menuliskan tentang seorang ibu yang mengikuti salah satu kelas AMC. Saat Firman mengajarkan tentang sugesti, ibu itu menjadi merasa bersalah dan menyadari bahwa dirinya sendirilah yang membuat anaknya jadi memiliki sifat malas dan mudah takut serta menjadi gagap. Hal itu terjadi karena ibu ini seringkali membentak anaknya. Termasuk saat anaknya bertanya soal pelajaran, ibu ini pun kemudian menjawab, “gitu aja nggak ngerti kamu, nak. Bodoh sih”, meskipun menurut pengakuannya itu hanyalah candaan belaka. Perlu digaris bawahi betapa mudahnya sugesti ini mempengaruhi perilaku anak.

 

Teori Behavioristik oleh Gagne dan Berliner pun menyatakan bahwa perubahan tingkah laku merupakan hasil dari pengalaman. Dalam teori ini disinggung tentang adanya pengaruh antara stimulus dengan respon atau perilaku yang menjadi outputnya. (Slavin, 2000:143)

 

Dari penjabaran mengenai teori ini, maka relevan apabila anak menerima stimulus yang baik, respon yang keluar pun akan menjadi baik pula dan begitupun sebaliknya. Sehingga ketika ingin anak perempuan kita percaya diri dengan apapun impian dan potensinya, selain harus memberikannya pilihan seluas mungkin, hal lain yang perlu dilakukan adalah memberi sugesti yang positif sebagaimana telah dibahas sebelumnya yaitu dengan mulai mengganti kalimat-kalimat yang biasa memojokkan atau meremehkan anak menjadi kalimat yang mengandung motivasi dan dorongan positif untuk mendukung mereka.

 

Kembali lagi, anak perempuan sangat layak mendapat perlindungan hak akan kesempatan yang sama dengan anak laki-laki untuk tumbuh dan berkembang menjadi apapun yang diinginkan. Mereka harus tetap mendapat kasih sayang yang cukup untuk menumbuhkan kepercayaan diri.

 

 

Apapun cita-citanya asal itu baik untuknya dan tidak merugikan siapapun, dukunglah. Karena berawal dari satu anak, dunia bisa menjadi a better place for everyone karena menjadi tempat dimana hak-hak, impian serta potensi tidak lagi dibatasi oleh stereotypes, terlebih bagi anak perempuan. Lindungi anak dari hal-hal yang menghambat mereka untuk berkarya sesuai keinginannya. Karena semua anak berhak untuk disayang dan dilindungi bagaimanapun kondisi dan pilihan hidup mereka masing-masing.

Categories: BERITA

Leave a Reply

Your email address will not be published.