EnglishIndonesia

Email: info@sahabatanak.com

Sejarah SAHABAT ANAK

TAHUN 1997
Jambore Anak Jalanan diadakan untuk pertama kalinya, diketuai oleh Beny Lumy. Yayasan KDM sebagai penggerak dari kegiatan ini, mengajak partisipasi kaum muda dari berbagai perguruan tinggi antara lain UI, ISTN, dan UKI sebagai panitia dan pendamping. Dihadiri lebih dari 200 anak dari berbagai daerah di Jakarta, antara lain Blok M, Kota, Cililitan, Pedongkelan, dan Cikini. JAJ perdana ini diadakan di Buperta Cibubur dengan mengusung tema “Manusia Gambar Allah”.
Tujuan acara sangatlah sederhana, yakni merayakan Hari Anak Nasional 23 Juli dan mempertemukan anak jalanan dengan orang-orang yang peduli dengan mereka.
Setelah acara, panitia dan pendamping mengadakan follow up berupa acara 17-an dan merancang sekolah untuk anak jalanan dengan menggunakan fasilitas yang ada di Asrama KDM Pondok Gede.

TAHUN 1998
JAJ kembali diadakan di Buperta Cibubur di bawah koordinasi David Panjaitan, dengan tema masih sama dengan JAJ 97 yaitu “Manusia Gambar Allah”, dan jumlah anak dan pendamping yang hampir sama.
Follow up dari JAJ ini adalah memulai proyek Rumah Singgah di satu area perkantoran yang dipinjamkan di daerah Kebon Sirih.

TAHUN 1999
JAJ kembali diadakan dengan tema, tempat, dan jumlah peserta yang sama. Tetapi  bentuk acara semakin bervariasi, di bawah komando Alles Saragi.
Proyek follow up dari JAJ ketiga ini adalah mengadakan program Mobil Sahabat Anak dengan konsep kunjungan ke kantung-kantung area anak jalanan dan mengadakan kegiatan belajar, perpustakaan keliling, pembagian nutrisi, dan pengobatan kepada mereka.

TAHUN 2000
JAJ mengambil tema “Aku Berharga”, diketuai oleh Lina Tjindra. Angka peserta mulai merangkak naik hingga 300 anak.
Follow up dari jambore ini adalah membuka kegiatan bimbingan belajar (bimbel) rutin bagi anak-anak di area Prumpung, Jakarta Timur.

TAHUN 2001
Di awal tahun ini Tim Formatur terbentuk. Terdiri dari Beny, Lina, Alles, Lanny, Lucy, Fabio, Ino, Ian, dan Maxeka. 9 orang ini mengambil komitmen untuk tetap bergabung selama 5 tahun dalam kepanitiaan JAJ dan menyusun tema berkesinambungan (2001-2005) serta memfasilitasi terbentuknya kepanitiaan dan Tim Follow Up pasca jambore.
Di bulan Juli, JAJ kelima diadakan dengan tema “Aku Berkarya”, diketuai oleh Lucy Siahaan. Tempat dan jumlah peserta hampir sama dengan tahun 2000.
Follow up dari JAJ 2001 adalah membuka Bimbel di area Grogol, yang diketuai oleh Frisca Hutagalung.

TAHUN 2002
JAJ diketuai oleh Carlo Sitompul, mengambil tema “Aku Berkarya dalam Seni dan Olahraga”. Tempat dan jumlah peserta berkisar seperti tahun sebelumnya.
Follow up dari JAJ 2002 adalah membuka Bimbel Manggarai dan mulai terbentuknya Bimbel bagi anak-anak stasiun Gambir di area Monas.

TAHUN 2003
JAJ mengambil tema “Aku dan Lingkunganku” dan diketuai oleh Nikolaus Widjaja, yang untuk pertama kalinya diadakan di luar Buperta Cibubur, yakni Camping Ground Ragunan. Konsep dan tema acara tentang lingkungan, mengajak peserta mengunjungi Kebun Binatang Ragunan. Dari segi peserta sudah mencapai angka di atas 300 anak dengan pendamping plus panitia hampir 200 orang.
Follow up JAJ 2003 ini adalah lahirnya Bimbel Cijantung.

TAHUN 2004
JAJ mengambil tema “Aku dan Iptek” dan kali ini dikoordinasi oleh Lanny Dora Manullang. Lokasi kembali diadakan di Buperta Cibubur dengan konsep acara yang cukup berbeda. Sesuai tema, acara dipenuhi dengan percobaan ilmiah dan kompetisi, yang ternyata sangat menarik bagi para peserta.
Follow up JAJ kali ini tidak dengan membuka area bimbel baru, tetapi memperkuat bimbel-bimbel yang sudah ada dan kekurangan tenaga pengajar.
Tahun 2004 merupakan akhir tugas kinerja Tim Formatur, karenanya pada Januari 2005, Tim Formatur dinyatakan bubar.

TAHUN 2005
Awal Januari 2005, seluruh anggota Tim Formatur mengadakan rapat evaluasi di rumah Lucky Lumingkewas selama 2 hari. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa perkembangan pelayanan yang terjadi saat itu, sudah tidak bisa lagi ditangani secara maksimal oleh Tim Formatur. Karenanya perlu diadakan restrukturisasi. Akhirnya Tim Formatur dibekukan dan dibentuk tim yang baru dengan nama Divisi Outreach yang berada resmi di bawah Yayasan KDM.
Tim yang lebih jelas strukturnya ini dipimpin oleh Imanuel Nanulaitta (Ian). Setelah beberapa bulan berjalan, tepatnya Maret 2005, Divisi Outreach berubah nama menjadi Divisi Sahabat Anak, karena dirasa lebih tepat dan membumi. Namun Ian pada bulan Mei mengundurkan diri guna menuntaskan kuliahnya dan digantikan oleh Alles Saragi.
Sejak restrukturisasi ini, sangat dirasakan perkembangan Sahabat Anak (SA) yang semakin cepat. Mulai adanya SOP keuangan, launching Website SA, diadakannya Rapat Kerja SA, adanya tenaga fulltimer, rekening bank khusus SA, pencarian donatur rutin, dibukanya Bimbel Senen, kerja sama dengan sejumlah mitra, dan sebagainya.
Tahun 2005 juga merupakan rangkaian terakhir jambore dari agenda 5 tahunan yang dibuat oleh Tim Formatur. JAJ tahun ini diketuai oleh Jhonly Singal, mengambil tema “Ayo Belajar!” guna memotivasi anak-anak jalanan untuk terus belajar apapun kondisi mereka. JAJ kali ini sangat berkesan karena diadakan di luar Jakarta, di daerah pegunungan, yakni Camping Ground Kinasih. Jumlah peserta mencapai 350 anak di mana yang hadir adalah para murid yang selama ini rajin mengikuti bimbel di daerahnya masing-masing.
Bimbel Gambir di tahun ini resmi bergabung dengan Sahabat Anak dan wacana pendirian Pusat Kegiatan Anak (PKA) sebagai solusi bagi remaja putus sekolah yang tidak tertangani optimal di Bimbel, mulai direalisasikan.

TAHUN 2006
Sahabat Anak mengawali tahun ini dengan pergantian kepengurusan. Kepengurusan SA tahun 2006 dipimpin oleh Beny Lumy yang membawa kinerja komunitas voluntir ini ke arahan yang lebih jelas, khususnya untuk 5 tahun ke depan. SA memiliki Strategic Planning 2007–2011, SA mulai mengarah untuk menjadi sebuah badan hukum, Prinsip-prinsip Pelayanan SA sudah semakin jelas dan mantap, Visi SA juga semakin diteguhkan, PKA juga boleh berjalan dan semakin jelas konsepnya, Program-program Capacity Building semakin terasa dan dibutuhkan oleh relawan, Humas Dana semakin gencar mempublikasikan pelayanan SA dan kian meningkatkan dukungan masyarakat, sistem keuangan yang makin rapi, hubungan SA dengan Bimbel semakin jelas, SA juga memiliki jalinan mitra kerja, Gerakan Sahabat Anak meluas, program-program SA kian membumi, Olimpiade Sahabat Anak sebagai ajang unjuk prestasi olahraga terselenggara perdana di akhir tahun 2006.
Tahun ini, Jambore Anak Jalanan (JAJ) berganti nama menjadi Jambore Sahabat Anak (JSA) dan diketuai oleh Elia Nenoharan. Bertemakan “Hak Anak Indonesia”, Jambore ini merupakan pembuka untuk Jambore 5 tahun ke depan (2007–2011) yang terus akan mengangkat tema tentang hak-hak anak. Tema-tema ini sangat menarik, karena merupakan kebutuhan bagi anak Indonesia dan menunjukkan kepekaan SA terhadap nasib anak negeri. SA tidak lagi hanya bicara tentang pelayanan karitatif, tetapi mulai melangkah ke pelayanan transformatif - yang tidak hanya memenuhi kebutuhan anak marjinal tetapi juga membantu memperjuangkan hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan.

TAHUN 2007
Tahun ini JSA diadakan untuk pertama kalinya di Mekarsari Cileungsi. Angka peserta pun menembus rekor yakni 700 anak, dengan pendamping & panitia 300 orang sehingga total ada 1.000 peserta. Tema yang diusung adalah “Lindungi Aku”, di bawah koordinasi Heri Sebastian. Pasca JSA, lahir Bimbel Tanah Abang di kawasan Pintu Air Pejompongan yang rawan banjir kiriman. Digawangi oleh Fabio sebagai Direktur, Sahabat Anak memantapkan program pembinaan dan pembekalan para voluntir melalui Leadership Course dan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) bagi Pengajar. Program beasiswa bagi murid berprestasi pun disempurnakan sistemnya termasuk program Pusat Kegiatan Anak (PKA) - sekolah nonformal bagi remaja jalanan putus sekolah.

TAHUN 2008
Hari Sahabat Anak (HSA) digelar perdana, bertempat di Kridaloka Senayan dan dibuka Gubernur DKI Fauzi Bowo yang melepas peserta Jalan Cinta setelah pembacaan Deklarasi Gerakan Sahabat Anak oleh Ketua Panitia Sitta Manurung. Panggung Gembira, Musical Story-Telling, Panggung Boneka, dan berbagai Lomba plus Permainan memeriahkan event seharian yang diikuti anak-anak binaan Sahabat Anak, anak-anak dari lembaga-lembaga mitra dan bersama anak-anak dari keluarga Jakarta yang mendaftar sebagai peserta.
Di awal Juli, Jambore Sahabat Anak bertemakan “Aku & Cita-citaku” digelar di Camping Ground Ragunan di bawah koordinasi Rolof Satriyanto. Dibukakan kepada para peserta bahwa cita-cita tidak terbatas pada insinyur, dokter dan gelar sarjana lainnya; namun ketrampilan memasak, tata rias, bermusik, menulis, dan bertani bila diseriusi bisa menjadi bekal hidup yang mumpuni. Di tahun ini pula, Bimbel Mangga Dua resmi bergabung dengan Sahabat Anak.

TAHUN 2009
Dalam rangka terus mengembangkan Gerakan Sahabat Anak, Hari Sahabat Anak 2009 menggelar program Sepatu untuk Sahabatku diketuai Beny Lumy, dengan melibatkan partisipasi publik untuk mendonasikan sepasang sepatu sekolah & 2 pasang kaus kaki kepada 3.117 anak marginal di 37 area jabodetabek. Lebih dari 20 lembaga ikut terlibat dalam gerakan ini. Info lengkap bisa dilihat di http://sepatuuntuksahabatku.wordpress.com
Di bulan Juli digelar Jambore Sahabat Anak bertemakan “Aku dan Tanah Airku” di Buperta Cibubur yang diikuti 700 anak dan 350 voluntir pendamping, dikomandani oleh Vicky Sylvanie.
Di tahun ini, Bimbel Senen menjadi mandiri dan tidak lagi berada di bawah payung Sahabat Anak.

TAHUN 2010
Nutrisi untuk Sahabatku (NUS) dipilih menjadi tema utama tahun 2010. Dimulai dari HSA di awal tahun yang bertepatan dengan Hari Gizi Nasional, program ini melibatkan partisipasi publik. Belasan lembaga bermitra untuk menggaungkan Gerakan sahabat Anak dalam memenuhi salah satu hak dasar anak ini. Tiap donasi Rp 50.000, 1 anak mendapat asupan nutrisi rutin selama 3 bulan (http://nutrisiuntuksahabatku.wordpress.com).
Di awal tahun ini, area Cijantung membuka Rumah Kemala Hijau, rumah singgah yang menggelar Kelas Gitar, Kelas Jimbe, Komputer, dan Perpustakaan bagi anak jalanan sekitar Pasar Rebo. Di bulan April, resmi dibuka TK/PAUD bagi anak jalanan usia prasekolah di Jelambar, Grogol.
Jambore Sahabat Anak bertemakan “Makanan Sehat bagi Sahabat” digelar 10-11 Juli di Buper Ragunan, diketuai oleh Guntoro, dengan mengundang 700 anak dan 350 voluntir pendamping serta 100 sahabat sekolah. Hingga akhir tahun 2010, program NUS yang diketuai oleh Simsim Hasibuan, berhasil menjangkau 1.924 anak marginal plus 500 anak pengungsi letusan Merapi di Jogjakarta.
Di tahun ini pula Sahabat Anak menjadi organisasi yang mandiri, sebagai badan hukum resmi bernama Yayasan Komunitas Sahabat Anak Jakarta.

TAHUN 2011
Hak Anak untuk Bermain, menjadi tema tahun 2011 yang dikampanyekan sepanjang tahun. Dimulai dari Hari Sahabat Anak yang melibatkan partisipasi publik dengan mendonasikan mainan layak pakai kepada anak-anak marjinal sejabodetabek serta memenuhi hak bermain mereka. Hingga Juli 2011, program HSA yang diketuai Mutiara Nathania berhasil mengajak bermain dan membagikan mainan kepada 1.929 anak di 31 area dengan melibatkan 23 lembaga yang turut berpartisipasi.
Jambore Sahabat Anak diadakan pada tanggal 2-3 Juli di Buper Ragunan dengan tema “Bermainlah Sahabatku!” diketuai oleh Wenas Saputra. Rekor baru terpecahkan dengan peserta mencapai 1.100 anak yang terdiri dari binaan SA, lembaga mitra, dan 30 rumah singgah di DKI Jakarta dengan dukungan sekitar 700 sukarelawan (pendamping, panitia, tim kerja, pengisi acara). Dalam kesempatan tersebut, Sahabat Anak bermitra dengan Dinas Sosial DKI Jakarta. Follow up dari JSA 2011 adalah terbentuknya bimbingan belajar bagi anak-anak jalanan area Kota Tua, Jakarta Utara.
Tahun 2011 merupakan akhir dari Strategic Planning 2006-2011. Pertemuan Pengurus Pusat, Pengurus SA Lokal dan Bidang mencetuskan goal Strategic Planning periode kedua 2012-2016 yakni “Sahabat Anak sebagai motor Gerakan Sahabat Anak dengan melibatkan banyak voluntir yang berkomitmen sehingga setiap anak jalanan terpenuhi hak-haknya.”
Di akhir tahun 2011, Sahabat Anak menjalin kerjasama dengan Yayasan KDM dalam pencapaian visi jangka panjang bersama, yakni pelayanan anak jalanan dan marjinal yang holistik.

TAHUN 2012
Di awal tahun ini, Bimbel Kota Tua resmi bergabung di bawah payung Sahabat Anak.
Hak Partisipasi Anak menjadi tema yang dikampanyekan sepanjang tahun ini. Mulai dari Program Hari Sahabat Anak (17 Februari) dan Jambore Sahabat Anak 7-8 Juli 2012 dengan tema “Suarakan Impianmu!”.
Dalam Jambore ke-16 yang diketuai oleh Vina Puspita ini, digelar survey ke seluruh peserta anak apa yang menjadi impian/harapan mereka. Hasilnya cukup menghentak karena lebih dari 50% anak berharap pekerjaan yang lebih baik. Bukan uang atau barang, tapi masa depan yang lebih baik.

TAHUN 2013
Menimbang hasil survey JSA 2013, Sahabat Anak mengangkat Hak Anak untuk Berpartisipasi dalam Pembangunan yang dikemas dengan tema “Aku Berharga, Aku Berkarya”. Dimulai dari Hari Sahabat Anak 17 Februari 2013, projek impian Karya Anak Indonesia (KADO) diluncurkan. Hasilnya, 50 kelompok dari 25 area Jabodetabek dan Bandung beraksi dengan 50 ide bagi komunitas/lingkungannya.
Jambore Sahabat Anak kembali digelar di Buper Ragunan 24-25 Agustus 2013, diketuai oleh Rama Adi Putra. Kali ini ada 10 anak marjinal Kali Code Jogjakarta bergabung. Puncak JSA ke-17 ini adalah pengumuman 3 juara dan favorit proyek impian KADO. Tindak lanjut dari tiap proyek KADO – seperti pembangunan WC umum di Prumpung, pengecatan tembok di lingkungan Grogol, pembangunan bak sampah bagi warga Buaran – memperlihatkan antusiasme dan manfaat dari program ini, tidak hanya bagi anak dan relawan, tapi juga masyarakat di lingkungan sekitar.
Di akhir tahun 2013, Sahabat Anak berkolaborasi dengan sejumlah lembaga dalam wadah TEN (Transmuda Energy Nusantara) berhasil meyakinkan Street Child World Cup (SCWC) untuk memasukkan Indonesia menjadi peserta Piala Dunia Anak Jalanan dan mengirimkan tim Garuda Baru ke Rio DeJaneiro Brazil 2014.

TAHUN 2014
Sehubungan dengan Street Child World Cup (SCWC), Sahabat Anak di bawah payung TEN mengadakan roadshow ke 7 kota besar Indonesia – Medan, Palembang, Makassar, Surabaya, Jogjakarta, Bandung, dan Jakarta – guna menyaring anak jalanan berbakat. 30 calon terpilih akan mengikuti Kamp Pelatihan di Jakarta, dan bagi yang berhasil lolos akan diutus untuk bertanding ke Rio DeJaneiro Brazil.
Sesuai hasil evaluasi program KADO di tahun 2013 yang cukup menggembirakan dan memberi banyak manfaat bagi peserta, Sahabat Anak di tahun 2014 mengusung Hak Anak untuk Mendapatkan Status Kebangsaan dengan tema “AKU ANAK INDONESIA/AAI”. Proyek KADO kedua pun kembali digelar dengan tujuan proyek mengarah pada pembimbingan anak menjadi Agen Perubahan. Kampanye AAI 2014 ini diketuai oleh Rickie Arliandi.
Di Raker November 2014, Sahabat Anak meningkatkan komitmennya dari lembaga pemenuhan hak anak menjadi Lembaga Perlindungan Anak. Program sosialisasi Akta Lahir dengan melibatkan peran remaja, orang tua, tokoh masyarakat dimulai dari area Prumpung, lalu Plumpang, dan Bekasi.
Di Desember 2014, bersama dengan KDM dan TEN, diadakan Jambore Futsal Anak yang pertama (follow up SCWC Brazil).

TAHUN 2015
Mengevaluasi kesuksesan program KADO di tahun sebelumnya yakni 2014 dalam menggiatkan partisipasi anak serta keterlibatan volunter di area binaan maupun area mitra, maka program KADO dilanjutkan. Keterlibatan keluarga – sesuai masukan dari lapangan – menginspirasi Pengurus untuk mengangkat tema “Kucinta Keluargaku” sebagai kampanye resmi Sahabat Anak tahun 2015. Kembali JSA 2015 menjadi puncak rangkaian kegiatannya.
Teknis JSA untuk mengintensifkan sesi sharing adik-kakak pendamping menjadikan jumlah peserta dioptimalkan menjadi 600 anak. Pelatihan khusus bagi Pendamping juga diintensifkan. Pelibatan orang tua sebagai kader pemenuhan Akte Lahir pun menjadi program menonjol di bawah Divisi Advokasi. Orientasi/Open House bagi publik yang tertarik mengetahui profil Sahabat Anak kian rutin digelar setiap bulan.
Rapat Kerja Sahabat Anak di November 2015 kembali menegaskan pelibatan peran orang tua dalam pemenuhan hak anak. Regenerasi terjadi dengan susunan Pengurus baru untuk 5 tahun periode kedua (2015-2020) Sahabat Anak sebagai Yayasan, yakni: Ketua Dian Novita, Wakil Ketua Alles Saragi, Sekretaris Theresia Tobing, Bendahara Simbur Hasibuan, Anggota: Hanna Tresya, Fransisca Tuning, Frisca Hutagalung.

Lina, 30 Jan 2016