EnglishIndonesia

Email: info@sahabatanak.com

Deklarasi Gerakan Sahabat Anak

Gerakan Sahabat Anak mengakui bahwa setiap anak mulia dan berharga, yang memiliki kesetaraan dengan semua manusia.

Gerakan Sahabat Anak menghargai, menghormati, dan memperjuangkan terwujudnya hak-hak dasar anak untuk bertahan hidup, bertumbuh kembang, memperoleh perlindungan, dan berpartisipasi.

Sebagai Sahabat, kami akan memberikan tenaga, pikiran, dan waktu agar setiap anak dapat terpenuhi hak-hak dasarnya tanpa memandang perbedaan suku, agama, warna kulit, dan kelas sosial.

Jakarta, Minggu, 17 Februari 2008
10 Hak Anak Indonesia

(Berdasarkan Konvensi Hak Anak PBB tahun 1989)

Setiap anak di manapun di dunia, berhak untuk:

  1. Bermain
  2. Mendapatkan PENDIDIKAN
  3. Mendapatkan PERLINDUNGAN
  4. Mendapatkan NAMA sebagai identitas
  5. Mendapatkan status KEBANGSAAN
  6. Mendapatkan MAKANAN
  7. Mendapatkan akses KESEHATAN
  8. Mendapatkan REKREASI
  9. Mendapatkan KESAMAAN
  10. Mendapatkan PERAN dalam PEMBANGUNAN

Jadilah Sahabat bagi Mereka

Berbagai pengalaman dan kesempatan yang dialami oleh sejumlah voluntir Sahabat Anak saat menangani anak jalanan, menyimpulkan bahwa tidak hanya materi yang mereka butuhkan. Perhatian, kesediaan untuk mendengar, meluangkan waktu untuk ngobrol, dan terutama kasih sayang – justru menjadi keinginan paling esensial bagi anak-anak kurang beruntung ini. Mereka butuh sosok seorang SAHABAT.

Aksi filantropi yang seringkali dilakukan sayangnya sebatas permukaan. Membagikan nasi bungkus, pengobatan gratis, ke taman hiburan – hanya bersifat sementara. Rasa lapar kembali menyerang saat makanan selesai disantap. Gizi buruk kembali diidap saat vitamin yang dibagikan habis. Kesepian kembali menyergap, saat mereka dipulangkan kembali ke rumah dipannya yang sederhana.

Kampanye STOP BERI UANG!

Kita Membuang Rp 1 Milyar Receh Setiap Hari

Sadarkah Anda, bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang uang receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan? Mari kita berhitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komnas Anak Indonesia (2008) mencapai angka 30.000. Pendapatan mereka seharinya bisa bervariasi antara Rp 50.000 hingga Rp 150.000 di satu area wisata di Jakarta Utara yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Bila kita ambil nominal tengah yakni Rp 50.000 dikalikan 20.000 anak, berarti kita membuang uang receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.000.000.000 alias 1 milyar per hari!

Kita membuat mereka betah di jalan
Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironik yang besar. Bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan. Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau menyodorkan amplop sumbangan – satu anak jalanan usia SD bisa memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh hasilnya hampir sama.