EnglishIndonesia

Email: info@sahabatanak.com

Aku Kini Berhenti Mengamen

Berdasarkan penuturan Ita, kelas 1 SMK Arrahman Tangerang, salah satu adik Sahabat Anak Grogol yang berhasil berhenti mengamenuntuk mengejar cita-cita kehidupan yang lebih baik.

Halo sahabat, namaku Ita. Saat ini aku kelas 1 SMK dan bersekolah di SMK Arrahman Tangerang. Aku bergabung di bimbingan belajar Sahabat Anak Grogol sejak tahun 2002.

Aku bersyukur bertemu dengan kakak-kakak yang mengajariku berbagai pelajaran di sekolah seperti Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS. Ketika aku duduk di bangku SMK di Jurusan Akuntansi, materi pengajaran yang diberikan sebagian besar tentang akuntansi.

Aku merupakan anak dari keluarga yang tidak mampu. Aku mempunyai tiga orang adik bernama Yusuf, Iis, dan Arif. Pada awalnya kami semuanya mengamen. Dengan berpeluh keringat kami mengamen di perempatan lampu merah di daerah Grogol, Tomang, Pesing serta di bis-bis umum antar kota.

Kami mengamen secara terpisah. Arif, adik kami yang paling kecil biasanya selalu bersama ibu. Kami selalu bangun pagi karena kami selalu bersiap untuk berangkat ke sekolah, Setelah kami pulang dari sekolah sekitar pukul 14, kami mulai pergi untuk mengamen. Pendapatan kami masing-masing per harinya dapat mencapai Rp 50.000.

Kami kembali lagi ke rumah hingga pukul 22. Ada kalanya kami terlambat pulang ke rumah sehingga ibu akhirnya memarahi kami. Pada hari Sabtu atau malam minggu, ada kalanya kami bergadang dan akhirnya baru pulang ke rumah esok harinya atau hari Minggu.

Hal in berlangsung terus hingga aku memasuki masa akhir sekolah menengah pertama yang kujalani. Ketika aku memasuki sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk masuk sekolah kejuruan jurusan Akuntansi. Aku mulai berpikir untuk masa depanku, Pikirku, aku harus menggapai cita-citaku setinggi langit dan menjadi pribadi yang lebih baik bagi diriku sendiri dan bagi adik-adikku.

Akhirnya pada bulan September 2008, aku memutuskan untuk berhenti mengamen dan mulai fokus pada pendidikanku. Sekolahku dimulai pada siang hari yaitu pada pukul 12 – 17, sehingga pada pagi harinya aku dapat membantu ibu mempersiapkan segala keperluan sekolah adik-adikku. Setelah pulang dari sekolah, aku mengulangi pelajaran yang telah aku terima di sekolah sampai pukul 20. Kemudian aku menonton televisi sampai sekitar pukul 21 sebelum kemudian aku beristirahat.

Demikian sekelumit kisah hidupku yang dapat kuceritakan kepada para sahabat. Kiranya kisahku ini dapat memotivasi sahabat lain yang masih mengamen supaya dapat meninggalkan kehidupan yang bergantung pada belas kasihan orang lain dan lebih memikirkan mengenai kehidupan yang lebih baik yaitu melalui pendidikan sehingga cita-cita kalian dapat tercapai.

Ditulis ulang oleh Andrew Fangidae