EnglishIndonesia

Email: info@sahabatanak.com

Senyum Untuk Anak Anak Merapi

Pertama, saya mewakili teman-teman di Sahabat Anak Gambir mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah turut mempercayakan dananya kepada kami. Tidak pernah kami duga sebelumnya penggalangan dana yang kami rintis untuk membantu korban Merapi mendapat sambutan yang cukup antusias. Pengiriman bantuan kepada korban Merapi telah kami lakukan dalam 4 gelombang yang nanti teman-teman bisa lihat terperinci dalam Laporan Pertanggung Jawaban yang telah kami buat.

Adapun pengiriman bantuan ini kami berkoordinasi dengan teman-teman sukarelawan di Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan 1001 Buku. Selain itu, sejalan dengan Gerakan Nutrisi Untuk Sahabat yang digalakkan oleh Yayasan Sahabat Anak tahun ini, maka tim kami pun membawa misi Nutrisi Untuk Sahabat di pengungsian Merapi. Menu nutrisi yang kami siapkan untuk adik-adik di pengungsian adalah susu dan biskuit dengan target sebanyak 500 anak Menu yang praktis dan tidak perlu diolah lebih lanjut tapi tentu saja tidak mengurangi nilai gizinya.

Senin,15 November 2010 adalah hari yang kami pilih untuk menjalankan kunjungan. Rencana hari itu kami akan bersama tim perpustakaan keliling 1001 buku menuju pengungsian di Muntilan. Bersama tim 1001 buku kami menempuh 1 jam perjalanan menuju Muntilan dari kota Jogjakarta. Sepanjang perjalanan kami melihat pemandangan yang benar-benar suram. Pohon kering dan layu, jalanan tertutup debu, dan  hampir semua pertokoan tutup. Bisa dikatakan kehidupan perekonomian daerah Muntilan benar-benar lumpuh. Makin naik ke atas, jarak pandang makin pendek karena debu yang makin terasa tebal. Sekitar pukul 13.30 kami pun tiba di tempat yang dituju yaitu SMK Pangudi Luhur yang dijadikan tempat pengungsian sementara.

Saat kami sampai terlihat ada beberapa pengungsi yang bersiap-siap kembali ke kampungnya. Meredanya aktivitas Merapi disertai penurunan jarak aman menjadi 10 km, membuat para warga ingin segera kembali ke kampung halamannya. Tapi masih ada beberapa pengungsi yang bertahan dikarenakan kampung mereka masih dalam jarak berbahaya. Meskipun tim kami fokus untuk anak-anak, tapi mata kami tidak bisa terlepas dari para orang-orang dewasa khususnya lansia yang ada di pengungsian tersebut. Terlihat wajah-wajah yang lelah dan mata-mata yang kosong. Pikiran-pikiran mereka tidak bisa lepas dari kampung halaman mereka yang telah hilang, sawah mereka dan harta benda yang binasa oleh Merapi. Bahkan ada satu ibu yang hingga menangis bercerita pada saya tentang sawahnya yang hilang. Tekanan-tekanan ekonomi tampaknya terus membayangi diri mereka. Tidak hanya harta benda yang hilang, tapi ada juga yang kehilangan anggota keluarganya. Sayangnya waktu terbatas yang kami punya tidak bisa membuat kami berkomunikasi lebih lama dengan para pengungsi itu. Padahal terlihat sekali mereka butuh teman-teman untuk berbicara dan menyalurkan keluh kesahnya.

Setelah dialog singkat dengan para pengungsi, kami pun bergabung kembali dengan 1001 buku untuk terlibat langsung dengan adik-adik yang telah berkumpul. Tim 1001 buku telah menyiapkan aneka buku bacaan dan kertas mewarnai. Awalnya adik-adik diajak bernyanyi bersama dahulu untuk mencairkan suasana. Setelah itu adik-adik dibagi menjadi beberapa kelompok dan kemudian diberi kegiatan mewarnai atau menggambar. Kebetulan tim dari Sahabat Anak juga membawa permainan monopoli. Kami pun terlibat seru dengan adik-adik saat bermain monopoli atau bermain ular tangga. Anak-anak terlihat ceria dan bersemangat sepanjang kegiatan berlangsung. Di akhir kunjungan kami, adik-adik membentuk barisan kereta sambil bernyanyi “Kereta Api” dan berkeliling satu putaran untuk kemudian berbaris dengan tertib menerima bantuan nutrisi. Ada satu adegan dimana kakak-kakak sangat tersentuh dengan sikap adik-adik. Yaitu saat ada beberapa adik yang kembali lagi menghampiri kakak-kakak. Kami pikir mereka mau minta susu dan biskuit lagi tapi ternyata mereka kembali karena belum pamit dan bersalaman dengan kami. Perilaku yang kami tidak sangka dan cukup berbekas di hati kami semua.

Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan ke pengungsian di SMU Vanlith, Muntilan tanpa didampingi oleh tim 1001 buku. Tim 1001 buku memutuskan kembali ke Jogjakarta terlebih dahulu. Kebetulan ada salah satu pengajar SA Tanah Abang yang menjadi sukarelawan di SMU Vanlith tersebut. Sesampainya di tempat tersebut kami meminta ijin terlebih dahulu untuk bisa mengajak adik-adik bermain bersama tim kami. Kemudian dibantu oleh para sukarelawan, kami mengumpulkan adik-adik di tengah lapangan sekolah. Aneka permainan yang melibatkan adik-adik dari umur 5 hingga 12 tahun berlangsung cukup seru. Keceriaan anak-anak sangat terasa. Untuk sesaat tampak mereka melupakan kondisi mereka yang sedang di pengungsian. Sungguh kebahagiaan tersendiri bagi kami bisa menghadirkan tawa bagi anak-anak di lereng Merapi ini. Akhirnya acara kami pun akan segera berakhir. Adik-adik kembali kami minta berbaris untuk menerima susu dan biskuit. Setelah itu kami pun pamit pada adik-adik dan para relawan.

Dengan demikian berakhirlah kunjungan kami sepanjang hari itu. Program Nutrisi Untuk Sahabat pun akhirnya berhasil kami wujudkan bagi anak-anak lereng Merapi. Sisa donasi kami putuskan disumbangkan seluruhnya untuk membeli hewan kurban yang nantinya akan disalurkan kembali kepada para pengungsi.

Sungguh pengalaman luar biasa bagi kami semua. Meskipun awal perjalan kami diliputi sedikit kecemasan akan status Merapi yang masih Awas, tapi akhirnya semua berhasil berjalan dengan lancar tanpa ada halangan berarti. Terima kasih tidak lupa kami ucapkan kepada tim ACT yang telah membantu menyalurkan sumbangan kami. Kepada tim1001 buku yang berkenan untuk menemani kunjungan kami. Kepada koordinator pengungsian di SMK Pangudi Luhur dan SMU Vanlith yang telah membuka pintu selebar-lebarnya bagi tim Sahabat Anak. Penghormatan juga kami berikan kepada semua relawan yang dengan keberanian tinggi mengorbankan waktu, tenaga dan materi demi membantu para pengungsi tanpa pamrih. Semoga Merapi kembali pulih dan bisa memberikan penghidupan bagi orang-orang di sekitarnya.

Salam Sahabat
Dina - PIC SA-Gambir