EnglishIndonesia

Email: info@sahabatanak.com

Parents Meeting Sahabat Anak Cijantung

ANAKKU MASA DEPANKU

Untuk ke-4 kalinya  SA Cijantung mengadakan pertemuan dengan orangtua adik-adik yang kami bina. Dan untuk ke-2 kalinya kami mengadakan pertemuan kali ini diluar tempat belajar biasa adik-adik.

Tepatnya kami adakan di Tanah Persahabatan Yayasan Kampus Diakonia Modern daerah Cileungsi dengan Tema Anakku Masa Depan Keluargaku.

Alasan SA Cijantung mengadakan Parents Meeting ini tak lain karena hampir sebagian besar orangtua dari adik-adik masih memiliki paradigma bahwa anak adalah mesin uang buat keluarga mereka, faktor ini juga yang menghambat pembinaan pendidikan dan karakter anak

Tanpa disadari oleh orangtua, sebenarnya bila digali minat dan bakatnya, adik-adik sebenarnya punya potensi untuk bisa mengangkat taraf hidup keluarga kelak tanpa harus ‘”mengamen” seperti yang biasa mereka lakukan.

Seperti acara-acara SA lain yang bersifat jalan-jalan layaknya Jambore, adik-adik juga sangat antusias mengikuti acara parents meeting kali ini. Mereka telah berkumpul dengan orang tua di Halte Graha Cijantung sejak pukul 5.30 WIB walaupun keberangkatan ke tempat acara dijadwalkan pada pukul 06.30 wib.

Jumlah peserta yang hadir malah melebih perkiraan penyelenggara SA Cijantung. Bayangkan, sebanyak 32 orang tua dan 73 orang anak turut serta. Berdesak – desakkan di dalam bus. Namun hal ini sama sekali tidak menyurutkan minat adik-adik dan orangtua untuk mengikuti acara.

Acara yang berlangsung selama hampir 8 jam ini dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok orangtua yang dibawakan oleh Ibu Septiari (profesional dibidang pendidikan dan pengajar disalah satu perguruan tinggi dan sekolah), sementara pada kelompok anak dibawakan oleh  Kak Kristo Panie dan Kak Lina (juga orang yang bergelut dibidang pendidikan anak).

Sesi acara yang berfokus pada orangtua berjalan dengan sangat interaktif. Dalam sesi tersebut, Ibu Septiari menyampaikan materi dengan begitu baik sehingga orangtua tidak bosan dan pokok terpenting bisa ditangkap oleh orangtua yang mayoritas tidak bisa menulis dan membaca ini.

Pada awalnya Ibu Septiari mengajak orangtua belajar sejauh mana mereka telah mengenal anak-anak mereka. Dengan bantuan kakak-kakak pengajar Cijantung, para ibu diminta menulis apa yang menjadi kebiasaan, kesukaan dan siapa teman terdekat si anak.

Pembukaan ini membuat kita semakin tahu bagaimana orangtua adik peduli terhadap anak-anak mereka.

Selanjutnya orangtua dibukakan bagaimana menciptakan kebahagian dalam keluarga tanpa harus memiliki banyak uang. Ada banyak cara membantu anak meraih cita-cita tanpa harus memiliki paradigma bahwa dengan uang mereka bisa memenuhi masa depan anak-anak mereka.

Ibu Septiari juga menjelaskan kepada orangtua adik-adik apa yang harus mereka lakukan juga bagaimana pentingnya orangtua mendukung setiap kegiatan positif yang dimiliki anak agar bisa melihat apa yang menjadi bakat minat si anak. Kegiatan ini bila didukung dapat membantu tingkat ekonomi anak-anak mereka. Karena pendidikan formal yang dimiliki seseorang tanpa keahlian, bakat dan minat tidak mungkin bisa sukses. Itu lah yang ditekankan oleh ibu Septiari kepada orangtua.

Ibu Septiari juga banyak membagikan kisah-kisah nyata yang dialami orang-orang biasa yang akhirnya bisa sukses meraih cita-citanya tanpa harus memiliki uang banyak yang terpenting memiliki minat serta kemauan yang besar pastinya disertai dukungan orang terdekat.

Respon yang luar biasa ditunjukkan oleh orangtua adik-adik dengan pertanyaan – pertanyaan seputar masalah yang terjadi dikeluarga mereka dan akhirnya ibu Septiari menutupnya dengan sedikit perenungan, dimana orangtua diminta menutup mata dan membayangkan wajah anak-anak mereka. Orang tua diajak untuk mulai berfikir bahwa anak-anak adalah anugrah berharga yang diberikan oleh sang Kuasa dengan karakter serta bakat yang berbeda-beda, unik dan juga memiliki hak untuk mendapatkan hidup yang layak serta dukungan dari keluarga, karena mereka adalah masa depan keluarga kita sendiri.

Ditempat yang berbeda adik-adik yang berjumlah 73 orang diajak bermain sambil belajar oleh kak Kristo dan kak Lina. Bermain sambil belajar yang mereka lakukan masih seputar apa itu cita-cita, bagaimana mereka bisa meraihnya? dan apa hubungannya dengan belajar?

Kak Kristo dan kak Lina sangat menekankan kepada adik-adik bahwa pendidikan formal maupun nonformal sangat penting untuk membuat mereka bisa meraih cita-cita.

Permainan berbentuk kelompok ini juga mengajarkan kepada adik-adik binaan SA Cijantung tentang kerjasama tim dan bagaimana menghargai pendapat orang sekitar sehingga mereka juga bisa diterima dengan baik dan dihargai oleh lingkungan dimanapun mereka berada.

Menjelang akhir rangkaian acara, para orang tua dan adik kembali dikumpulkan dalam satu ruangan. Kakak pengajar mengumumkan dan membagikan hasil belajar adik-adik selama setahun. Pembagian rapor atau hasil belajar ini sudah menjadi kegiatan rutin tiap akhir tahun SA Cijantung untuk membuktikan kepada orang tua mereka apa yang telah dan hasil dari belajar selama setahun yang telah berhasil dicapai anak-anak mereka.

Betapa bahagia adik-adik yang berprestasi dikelasnya. Masing-masing mendapatkan hadiah dari kakak. Acara diakhiri dengan para adik dan orang tua bernyanyi bersama serta ditutup dengan doa pulang.

Bersyukur semua berjalan sangat lancar meskipun dalam perjalanan pulang cuaca buruk. Hujan yang turun sangat lebat dan kendaraan yang seadanya sempat membuat sebagian dari adik-adik dan orang tua harus terkena basahan air hujan.

Tapi satu hal yang tidak bisa kakak-kakak lupakan seorang ibu selesai acara berkata  “ kak terima kasih ya, tolong Bantu anak saya meraih mimpinya supaya tidak hidup susah lagi sepeti saya”

Salam Sahabat,
SA Cijantung