EnglishIndonesia

Email: info@sahabatanak.com

Anak = Mesin Uang (NO WAY!)

Bimbingan Belajar Cijantung adalah satu bentuk follow-up Jambore Anak Jalanan yang diselenggarakan dalam rangka Hari Anak Nasional di bulan Juli 2002. Sejak itu terjalin relasi yang cukup intensif antara kami (selaku panitia dan pendamping saat itu) dengan adik-adik daerah Cijantung. Adanya minat belajar yang cukup tinggi dalam diri mereka (baik yang bersekolah maupun drop-out), mendorong kami untuk memberi bimbingan belajar rutin setiap hari Minggu jam 15.00 s/d 17.00 WIB. BBM Naik, Setoran Naik! Hingga saat ini tercatat sekitar 64 anak, usia 7 – 15 tahun yang “beroperasi” di area tersebut (Pasar Rebo, Mal Graha Cijantung, Pal, dan Kelapa Dua Depok). Tujuan praktis adalah membantu mereka yang masih bersekolah dalam mengerjakan tugas sekolah dan mengajari calistung (baca, tulis, hitung) bagi yang tidak mampu/putus sekolah.
Namun pada awal tahun ini, terlihat adanya penurunan jumlah anak yang datang belajar. Setelah diselidiki, ternyata banyak anak yang dilarang orang tuanya untuk datang ke bimbel karena lebih mengutamakan untuk mencari uang memenuhi “setoran wajib” yang sebelumnya Rp 30.000 menjadi Rp 50.000 sehari dengan alasan kenaikan BBM. Omelan, makian, pukulan, dan kekerasan fisik lainnya harus mereka terima bila pulang dengan setoran kurang. Sungguh ironis!
Karenanya kami melakukan pendekatan kepada para orang tua anak, bukan dengan cara yang keras atau sok menggurui, tapi melalui acara kebersamaan yang bertemakan “Aku dan Keluargaku”. Strategi penyampaian pesan melalui rangkaian acara yang santai dan akrab, kiranya bisa membuka wawasan para orang tua akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka

Persiapan Kilat
Meski dengan persiapan kilat 1 bulan, berkat dukungan dari banyak teman dan donatur, acara kebersamaan ini dapat berjalan sesuai rencana. Para peserta yang terdiri dari 54 anak, 24 orang tua, dan 6 balita telah berkumpul sejak pukul 5 pagi dan berangkat bersama menuju kawasan rekreasi Cibodas – Puncak.
Sejumlah acara permainan dan dinamika kelompok pun digelar, baik bagi anak maupun orang tua. Meski berbentuk permainan, namun teknis dan hasil akhirnya memberi banyak masukan berharga bagi kami, Tim Bimbel Cijantung. Bersyukur sekali untuk seorang rekan senior yang berpengalaman di WVI dan UNICEF yang membantu mensupervisi teknis dan tujuan berbagai permainan tersebut.

Menjadi Bodoh dan Terluka
Di kelompok anak, ada dua games yang ditampilkan. Pertama adalah “Berhitung Cepat”, yakni unjuk kebisaan tiap anak dalam menjawab soal hitungan di depan orang tuanya. Sang ibu atau bapak membacakan 6 soal matematika, sedang sang anak mendemonstrasikan kecepatannya menghitung dan memberi jawaban dengan tepat. Tanpa disadari, interaksi antara orang tua dan anak selama permainan berlangsung memperlihatkan bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya. Hubungan yang harmonis akan menunjukkan hasil yang baik tentunya. Namun untuk orang tua yang kurang mendukung dan cendrung menekan, terlihat bagaimana sang anak menjadi gugup dan begitu ‘bodoh’ dalam menjawab soal-soal (padahal saat bimbel begitu mudah ia selesaikan).
Kedua adalah “Body Map” di mana anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok lalu yang paling kecil berbaring di atas karton putih untuk digambar siluet tubuhnya. Tiap anak diminta memberi tanda pada siluet itu tiap luka yang ada di tubuhnya dengan tanda X (akibat kecelakaan) dan O (akibat kekerasan). Hasilnya, memang cukup menjadi bukti bahwa kekerasan fisik dialami oleh bocah-bocah malang ini. Satu kisah nyata: seorang anak berinisial J yang dilempar dengan benda tajam mengenai pelipis kepalanya dan menimbulkan bekas luka yang permanen. Kejadian ini disebabkan karena si anak tidak dapat memenuhi target setoran yang ditetapkan orang tuanya sendiri. Terus terang sampai sekarang, saya masih emosional bila mengingat peristiwa ini.