EnglishIndonesia

Email: info@sahabatanak.com

Motivational Leadership

Duduk di Ujung Kursi, Mata Berbinar...

16-17 Mei 2009 lalu di Cileungsi, Capacity Building - bidang yang menangani voluntir di Sahabat Anak (SA) - mengadakan pembinaan sebagai salah satu program pembekalan bagi para aktivis SA untuk lebih bersemangat dan fokus dalam menjalankan aktifitasnya.

Bertema “Motivational Leadership”, Bapak Puthut Rahardjo seorang Independent Consultant, diminta untuk menjadi Trainer dalam pembinaan ini. Berbekal jam terbang panjang, ayah dua putra ini menjelaskan kepada peserta (dalam hal ini Pengurus SA Pusat, Pengurus SA Lokal, Anggota Bidang dan Operasional SA) filosofi dasar memaksimalkan potensi diri.

“Dalam lubuk hati manusia paling dalam tersimpan kekuatan yang belum digali. Kekuatan yang menakjubkan yang belum pernah diimpikan, kekuatan yang akan merombak hidup, jika dibangkitkan, ditindaklanjuti, dan dilaksanakan. Karena itu bandingkan diri Anda hanya dengan diri Anda sendiri setiap hari. “ demikian pembukaan dari Pak Puthut.

Hari Pertama
Modul pertama, peserta dianjurkan untuk mengenali diri, dengan mengenali dan belajar dari pengalaman-pengalaman yang diprediksi berhasil. Dalam sesi ini Pak Puthut membagi kami dalam beberapa kelompok, di mana tiap-tiap orang diminta untuk bercerita kepada teman kelompoknya pengalaman keberhasilan yang pernah diraih secara bergiliran dalam waktu singkat.

Dari tiap kelompok Pak Puthut meminta dipilih 1 yang terbaik untuk bercerita kembali ke semua peserta dan dari situ terpilihlah 2 pencerita terbaik, yakni Alles Saragi dan Lina Tjindra, keduanya anggota pegurus SA.

Kesimpulan yang dapat diambil dari sesi ini adalah cara mengembangkan potensi diri, yakni:

  1. Terima diri (mengenal kelebihan diri);
  2. Hormat diri (menghargai diri dari poin di atas);
  3. Setelah mengenal dan menghargai diri, kita jadi Percaya Diri;
  4. Sehingga akhirnya kita bisa mengendalikan diri kita dengan baik (Kontrol diri).

Berikutnya kita semakin tahu gambaran diri dan apa yang bisa kita lakukan dalam hidup, sesuai  Visi Misi pribadi ke depan.

Modul kedua, peserta dibukakan “Fungsi dan Peran” pemimpin yang melayani, bagaimana karakter yang harus dimiliki, dan apa saja indikator keberhasilannya. Pak Puthut menekankan bahwasanya dalam menjalankan kegiatan melayani dan memimpin sebagai voluntir di Sahabat Anak, kita perlu mengenali elemen kepemimpinan yang menjadi fungsi dan peran kita sebagai tenaga pelayan.

Menjelang sore, Pak Puthut menyudahi training hari pertama untuk kembali ke Jakarta dan mendiktekan sejumlah pe-er yang harus dikumpulkan esok pagi. Sore itu, ada sejumlah peserta yang baru pertama kali ke Cileungsi - yakni lahan pendidikan dan pelatihan bagi adik-adik usia remaja belajar bertani, beternak, dan ketrampilan hara lainnya – melakukan treking melewati sawah, ladang, sungai, dan perumahan penduduk.

Usai makan malam, seluruh peserta berkumpul di ruang perpustakaan dan mengerjakan pe-er. Salah satu tugas paling seru adalah memvisualkan dengan gambar impian tiap kita dalam 5 tahun mendatang. Bermodalkan setumpuk tabloid, majalah dan koran bekas, kami sibuk mencari gambar yang representatif menggambarkan 4 hal dari 8 bidang yang diberikan, yakni: Keluarga, Personal/Pribadi, Religius/Keagamaan, Kesehatan, Masyarakat, Sosial/Pelayanan, Karir/Keuangan, Mental/Wawasan. Gelak tawa dan canda terlontar di tengah tebaran kertas dan guntingan yang bertebaran. Seru, karena antar peserta saling mengintip dan mengomentari karya masing-masing.

Hari Kedua
Mengangkat tema “Menjadi Pribadi yang Lebih Apresiatif”, pembelajaran kali ini menjadi bagian favorit saya. Peserta diajarkan untuk bisa mengkonsentrasikan dan mengkomunikasikan diri pada kekuatan dalam diri orang lain serta menemukan sebuah nilai yang besar dari penghargaan yang tulus.

Para peserta kembali dibagi dalam kelompok kecil, lalu secara bergiliran semua anggota kelompok memberikan apresiasi yang tulus dan jujur bagi teman kelompoknya, satu per satu.

Inilah kunci kita disenangi orang lain serta dapat mengembangkan ketrampilan dalam memberi dan menerima umpan balik yang positif. Mengingat bahwa hal terpenting bagi manusia adalah kebutuhan untuk dihargai.

Kalimat bijak yang sangat kami ingat dari sesi ini (dinyanyikan dengan gerakan “gila”) adalah: “If we keep our customer happy... They will keep us in the business!”

Penutupan dari training ini tidak kalah seru dari modul-modul sebelumnya. Kali ini peserta yang berjumlah kurang lebih 30 orang dibagi dalam 2 kelompok besar, dalam kelompok ini kami diminta untuk mempresentasikan bahan-bahan mading yang sudah dibuat.

Tiap peserta dalam kelompok bergiliran mempresentasikan madingnya dengan terlebih dulu meneriakkan yel-yel andalan “Duduk di ujung kursi, dengan mata berbinar-binar, kita panggil pembicara kita…” sambil menepuk meja atau kursi yang diduduki.


Tiap peserta yang namanya dipanggil sambil berjalan ke depan harus menyebutkan poin-poin positif kepribadiannya di depan yang lain dengan suara lantang, lalu mempresentasikan mading impian lima tahun ke depannya dalam waktu 1 menit.

Presentasi yang serius, seru dan mengundang tawa ini benar-benar menjadi akhir acara yang sangat berkesan. “Saya yakin saya pasti bisa..”. Akhir kalimat yang keluar dari peserta yang melakukan presentasi di depan dan kemudian didukung oleh teman-teman kelompoknya dengan menjawab “Amiiin!”.

“Anda harus yakin kepada diri sendiri, ketika orang lain tidak yakin kepada dirimu. Itulah yang menjadikan Anda seorang pemenang.”

Oleh Sari Sihombing
Divisi Capacity Building SA